Sabtu, 23 April 2016

Anak Kecilnya Bapak Ibu



Birrul Walidain, atau lebih akrab dengan kata berbuat baik terhadap orang tua.

Masih ingat dulu, bagaimana Bapak dan Ibu dengan sabarnya mengajarkan ke bocah ini belajar membaca.
"B-A ba T-A ta. dibaca?" tanya Bapak dan Ibu bergantian.
"TATA." jawabku salah sekaligus lantang.

Masih ingat dulu, ketika Bapak dan Ibu menghadapi masalah besar karena usahanya mengalami gulung tikar. Sedangkan aku tetaplah menjadi anak nakal, minta mainan atau apapun harus terpenuhi.
"Bapak tumbas itu... Bapak mau itu juga... yang itu juga?" rengenganku, dan beliau tetap membelikan apa yang ku mau.
" Shel, kamu tahu anak penjual kacang itu? Tadi dia juga minta mainan ke bapaknya, terus apa yang dilakukan bapak anak itu? tanya Bapak kepada ku, aku pun menggeleng karena tidak tahu kelanjutan ceritanya.
"Bapak itu malah mukulin anaknya, udah ga dibeliin mainan terus dipukulin lagi, kasian ya?"
"Iya... Dipukulinnya kaya gimana pak? tanyaku polos. Kemudian, Bapak menaruh tangan kirinya di lenganku, kemudian tangan kanannya untuk mencontohkan pukulan itu. Aku tidak kesakitan sama sekali karena ada penghadang tangan kiri bapak di lenganku.

Masih ingat dulu, ketika aku menangis dimarahi ibu karena setiap hari Senin harus mencarikan topi dan dasi untuk upacara. Ibu ga pernah malu untuk minta maaf karena sudah memarahi anaknya. Padahal, itu karena kesalahanku. Bahkan, tidak jarang ada bonusnya, seperti rencana tamasya di hari minggunya. hehhe

Pernah suatu ketika aku menelpon mereka, hanya untuk mengucapkan "Maaf, Shela sering merepotkan bapak ibu?" Mereka hanya bilang "kalau kamu merepotkan orang lain, justru Bapak Ibu yang repot nduk. Ga boleh kaya gitu, Bapak dan Ibu kerja keras itu buat anak-anaknya, Bapak Ibu bisa nuruti apa yang menjadi kemauan anaknya itu sudah bahagia. Tugas mu nduk, belajar supaya besok bisa jadi anak yang bisa bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negara." ucap ibu menasihati. Mendengar nasihat ibu, semakin menjadi lah tangisanku waktu itu.

Aku dibesarkan dengan kasih sayang bukan berarti aku harus menjadi seorang yang lemah. Melihat lika-liku yang sudah dilewati orangtuaku , telah mengajarkan banyak hal tentang perjuangan dan pengorbanan.

Janjiku kepada mereka, dimana pun kelak aku akan tinggal, anak mu ini akan selalu ada untukmu - bapak ibu, seperti engkau yang tidak pernah menghiraukan waktu hanya untuk menjenguk anakmu yang sudah bukan anak kecil  lagi.
I promise anytime you call me
It don’t matter where I am
I’ll always be there, like you’ve been there
If you need me closer, I’ll be right over
I swear, I swear

Every time that I need you by my side
Every time I lose my way in life
You’re my circle of life, compass and guide
There behind me
And one day when the tables finally turn
And it’s me you’re depending on
I’ll put you first, hold you close 
Like you taught me
Know that I’ll be there for you, for you

Having someone to go to
Having someone to love
Having both is a blessing
That was sent from above
Oh I know that wherever I’ll go
You’ll be forever in my heart
(Harris J- I promise)

2 komentar:

  1. Shela sayaaaang, semangat yaa :")

    BalasHapus
  2. pas tau Shela kehabisan tiket kereta; aku tau Shela pasti bakal sedih karena nggak jadi pulang. I know that feel :"""
    akhirnya Ibu Shela yang ke Jogja kaaaan. huaaa manisnya rencana Allah Yang Maha Baik ^^

    BalasHapus