Kamis, 20 Oktober 2016

Jangan Berhenti Belajar

Di suatu sore, di dalam mobil, dengan setting suasana hujan lebat di luar, Bapak tetap fokus mengendalikan laju kendaraan khawatir apabila anaknya mendapatkan jadwal kereta yang larut malam. Seperti biasa, masih dengan ost.Shalawat Gusdur-Habib Syekh Assegaf, favorit Bapak-Ibuk.

Duh bolo konco prio wanito
 Ojo mung ngaji syare'at bloko
Gur pinter dongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sangsoro

 Akeh kang apal Qur'an Hadist e
Seneng Ngafirkeh marang liyane
Kafir e dewe Ga' di gatekke
Yen isih koto ati akale

Sudah tidak asing dengan lirik lagu itu, tapi masih sering bertanya "maksud yang kata ini apa Pak? Kalo yang ini? Terus kalo yang itu?" Bapak ngejelasin satu-satu, berlanjut ibuk yang menambahkan, tidak jarang mereka berdebat sendiri mengenai terjemahan yang sesuai ke dalam Bahasa Indonesia. Baiklah..
"Nduk, kamu itu belajar boleh dimana saja, ikut yang sana ya monggo, yang sini ya monggo, yang Bapak ga bolehin ketika kamu berhenti belajar dan udah merasa yang paling benar..." nasihat Bapak memecah keheningan kita dalam hujan.
"Iya Pak..."
"Kamu tahu artinya "belajarlah sampai ke negeri China?" Kalau menurut Bapak, kata itu ngga cuma menyuruh kita untuk belajar jauh sampai ke luar negeri, tapi juga belajar di tempat yang budayanya berbeda dengan kita, bahkan belajar ke orang yang bisa jadi agamanya berbeda dengan kita..."
"Tapi, kadang Shela bingung Pak kalo udah ada beda pendapat, ketika belajar disini katanya ini, yang disana katanya itu, terus yang bener mana Pak?"
" Kamu itu lucu, udah dijelasin sejak jaman Rasul bahwa umat Islam terpecah ke dalam 73 golongan, dan cuma 1 golongan yang masuk surga, siapa? Ahlul Sunnah wal Jamaah, sedangkan semua kan ngakunya sebagai Ahlul sunnah wal Jamaah. Bapak kan bilang jangan pernah berhenti belajar..." lanjut nasihat beliau.
 Oke, "Jangan berhenti belajar!" kalimat yang aku garis bawahi disini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar